Pelabuhan Patimban Memiliki Arti Penting dan Strategis bagi Perekonomian Indonesia

0
69
pelabuhan patimban
Dr. R. Agus Trihatmoko (Ekonom Universitas Surakarta)

SOLO, wartasurakarta.com – Peresmian oleh Presiden Joko Widodo atas selesainya pembangunan pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat tahap I dan sudah diluncurkan operasionalnya sangat kita apresiasi dan syukuri. Ini proyek besar yang tepat sasaran bagi pergerakan atau akselerasi perekonomian nasional, dan bahkan internasional. Pelabuhan dan infrastrukturnya bagi perekonomian sangat penting dan strategis, mengingat Indonesia sebagai negara maritim. Integrasi dan keberadaan pelabuhan pada masa perdagangan modern sebenarnya telah diletakkan pondasinya yaitu sejak masuknya kolonialisme di seluruh wilayah ‘Nusantara’.  

Secara geografis pelabuhan Patimban akan menjadi penyangga beban ekonomi transportasi laut di antara Jabodetabek dan Jawa Barat sendiri yang selama ini tersentral ke Tanjung Priok dan Jawa Tengah yang tersentral di Tanjung Emas. “Selama ini di dua pelabuhan tersebut sering terjadi overloading dan overtime untuk transportasi menuju Indonesia Timur, dan bahkan juga ketika ke wilayah Sumatra”, sehingga inefisien bagi para pelaku bisnis.

Pelabuhan Patimban tersebut secara geoekonomi akan mengkoneksitaskan dengan potensi ekonomi dari luar pulau Jawa ke Jawa Barat dan Jateng. Demikian juga untuk kepentingan jalur ekspor-impor, pelabuhan Patimban tentu akan sangat berperan penting bagi sirkulasi perdagangan. Sehingga potensi sumber-sumber ekonomi memiliki peluang strategis melalui keberadaan/jalur pelabuhan ini.

Bagi perokonomian Jawa Barat ‘khususnya’ diharapkan mampu dan berhasil membangun industri dan kewirausahaan untuk berbagai sektor. Industri-industri berat sudah mapan di sana, mulai dari Bekasi, Karawang, dan Cikampek, hingga Bandung, dan lain sebagainya. “Pertumbuhan investasi pada sektoral industri seperti itu memang akan meningkat di Jawa Barat, tetapi itu sifatnya jangka panjang”.

Baca Juga:   Ekonom Universitas Surakarta Agus Trihatmoko Menilai Draf RPP Perizinan Usaha di Daerah Perlu di Tinjau Kembali

Sasaran investasi dalam jangka pendek yaitu sektor pertanian, sebagai pondasi awal atau prioritas untuk mengdongkrak pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Sektor pertanian kemudian diintegrasinya dan disinergikan dengan peternakan, perkebunan, serta kelautan sendiri. Misalnya, daerah terdekat yaitu Karawang, Subang dan Indramayu merupakan sentra pertanian, dan bahkan sudah diprioritaskan oleh pemerintah menjadi lumbung pangan nasional.

Dampak positif lainnya dari perkuatan sektoral terkait pertanian pada sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya produk bioenergy yaitu wood pellet. Produk ini ke dapan menjadi harapan kebutuhan energi alternatif nasional, “termasuk sekarang pasar internasional sudah tumbuh, namun pasokannya masih kekurangan”.   

Peran Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dan Kementrian Koperasi UMKM harus proaktif, dan berkelanjutan pada sektoral prioritas tersebut sebagai kata kunci keberhasilan industrialisasi dan pemberdayaan UMKM di Jawa Barat. Inisiatifnya tentu harus seiring dengan program Pemerintah Daerah, dan sinergi dengan kementrian lainnya.

Berikutnya, pemberdayaan sektoral industri apa pun harus mulai berorientasi pada produk ekspor, selain untuk kebutuhan dalam negeri.  Ini sebagai antisipasi secara serius ke depan agar pelabuhan Patimban justru “tidak menjadi jalur banjirnya” barang-jadi dari negara lain.     

Dampak lain yang juga harus ditindaklanjuti adalah bagi pelabuhan Tanjung Priuk dan Tanjung Emas. Kemungkinan akan terjadi penurunan kapasitas loading dan unloading. Sehingga, perlu diantisasi sejak dini “jika” melampaui dibawah ambang kapasitas normal masing-masing pelabuhan Termasuk, juga dampak-dampak ekonomi di lingkunan sekitar pelabuhan tersebut. Jadi, pemerintah pusat harus turut mengatur pemetaan (mapping design) industri dan kewirausahaan agar masing-masing pelabuhan memiliki peran strategis dan efektif kelogistikkan dan perekonomian lainnya. Kahadiran pelabuhan Patimban nantinya perlu dikaji untuk dijadikan role model  koneksitas geoekoomi nasional, dan internasional. Hal itu perlu dijadikan inisiatif pemerintahan pusat bersama pemerintahan daerah-daerah di Indonesia yang memiliki potensi menjadi sentra pelabuhan besar. Bahkan, pelabuhan-pelabuhan kecil peninggalan masa kolonial dapat dibangun/dihidupkan kembali.  Sehingga, transportasi perdagangan di Indonesia melalui jalur laut akan semakin pesat, dan ke dapan dapat mengurai masalah kepadatan jalur melalui darat.

Baca Juga:   Sukseskan Penyaluran DFDD Tahun 2021 di Jawa Tengah

Penulis: Dr. R. Agus Trihatmoko (Ekonom Universitas Surakarta)