“Kecelakaan Sejarah” Lakon Partakrama

0
75
Kecelakaan Sejarah Lakon Partakrama

WARTASURAKARTA.COM – Saat terjadi kemelut di kerajaan Mataram, pasukan pemberontak yang dipimpin Trunajaya berhasil menyerang istana. Pangeran dari Madura tersebut menawan sejumlah tokoh pendukung kerajaan. Salah satu yang ikut tertawan adalah dalang kerajaan, namanya Nyi Panjangmas. Dia adalah dalang perempuan yang sangat termasyur namanya di dunia pedalangan Jawa. Nama besarnya sebagai dalang, diakui bahkan hingga kini.

Pasukan Mataram yang terkonsolidasi mampu berbalik menyerang. Pusat kerajaan kembali dikuasai. Trunajaya dan pasukannya terdesak dan menerapkan strategi mundur hingga akhirnya tiba di Pacitan. Nyi Panjangmas, dibawa serta dalam pelarian pasukan gabungan Madura dan Bugis itu.

Di lokasi tersebut, Trunajaya dan pasukan berbaur dengan warga setempat untuk semakin menguatkan pertahanan jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari bala Mataram yang mengejar.

Pada suatu kesempatan, Nyi Panjangmas diperintahkan untuk melaksanakan pertunjukan pergelaran wayang kulit dengan lakon ‘Partakrama’, pernikahan Permadi (nama muda Arjuna) dengan Subadra.

Pernikahan Permadi dengan Subadra adalah lakon yang memang ‘baku’ dari cerita asli Mahabharata karya Resi Wiyasa. Namun tentang cerita seputar pernikahannya, sepenuhnya adalah pengembangan yang dikreasi oleh para penggubah cerita khas Jawa, yang selanjutnya dipakemkan di dunia pertunjukan wayang Jawa.

Dalam pakem ‘Partakrama’ di pewayangan Jawa tersebut, disebutkan sejumlah persyaratan dari pihak perempuan harus dipenuhi oleh pihak pria jika menginginkan pernikahan berlangsung. Dari banyak persyaratan berat itu, salah satunya adalah pihak pengantin pria harus bisa menghadirkan kera putih yang bisa bicara layaknya manusia, sebagai pimpinan rombongan mempelai pria.

Baca Juga:   Falsafah Pring (Bambu) Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Demi memenuhi syarat ini, Werkudara memerintahkan kepada Gagakbaka, patih di Kasatriyan Jodhipati, untuk menemui kenalannya, Resi Pracandaseta di pertapaan Pandhansurat. Pracandhaseta adalah seorang resi berujud kera berbulu putih yang bisa berbicara layaknya manusia.

Pada saat adegan Gagakbaka diutus Werkudara mencari kera putih, wayang Gagakbaka tidak ada. Nyi Panjangmas kemudian mempergunakan wayang Gathutkaca, yang memang perwujudan, perawakan dan karakternya nyaris serupa.

Ketika di adegan pertapaan Pandhansurat, wayang Pracandhaseta juga tidak ada. Nyi Panjangmas lalu menggunakan wayang Anoman, sehingga dalam pergelaran itu dipertunjukkan peperangan seru antara Gathutkaca dengan Anoman.

Dari pertunjukan itu tertanam pengertian di memori penonton bahwa Anoman lah yang dicari sebagai persyaratan pernikahan agung Permadi-Subadra. Pengertian itu lalu tersebar luas, terutama di kalangan pedesaan hingga mempengaruhi pertunjukan yang digelar para dalang di kawasan tersebarnya pengertian tersebut.

‘Pementasan darurat’ Nyi Panjangmas ini mengakibatkan adanya salah pengertian sehingga para dalang sesudah peristiwa tersebut ketika menggelar pertunjukan lakon ‘Partakrama’, kebanyakan menjalankan Gathutkaca diutus Werkudara mencari Anoman.

Padahal saat Gathutkaca lahir, Permadi sudah bernama Arjuna/Janaka yang mencarikan pisau pemotong tali pusar Gathutkaca, sehingga tidak nalar jika pada penikahan Permadi, Gathutkaca digambarkan sudah dewasa.
Anoman sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati para Pandhawa, tidak mungkin akan diperangi apa lagi dijadikan sebagai barang persyaratan sebuah pernikahan.

Baca Juga:   Pasar Windu Jenar

Pedoman di dalam pakem pedalangan menekankan: jangan menggunakan wayang terkenal untuk memerankan atau meminjamkannya untuk wayang yang tidak ada saat dibutuhkan. Apa lagi jika itu dilakukan oleh dalang yang amat masyur, terkenal dan banyak menjadi panutan bagi dalang-dalang lainnya.

Penulis : Muchus Budi R