Tayuban Digusur dari Kehidupan Keraton Jawa (Fakta Ke-5)

0
109
Tayuban Digusur dari Kehidupan Keraton Jawa
Tayuban Digusur dari Kehidupan Keraton Jawa

Pada ulasan kali ini kita akan sampai pada Fakta Sejarah ke – 5 perjalanan tradisi tayuban. Pada tahun 1788 -1820 di era kepemimpinan Pakubuwana ke IV (PB IV), sejarah perjalanan panjang tayuban sebagai bagian adat kraton Jawa berakhir.

Maklumat Sampeyan Ndalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB IV  menegaskan :

  1. Thaledhek bukan lagi menjadi Pradata Ndalem Kraton. (Tayuban tidaklagi diakui sebagai bagian dari adat Istana)
  2. Melarang kebiasaan madat (candu) dan main (bermain wanita) bagi Sentana Dalem (kerabat), Pengageng Parentah  (pejabat) dan para abdi dalem Parentah (pegawai)

Inilah yang menandai BABAK BARU perjalanan tayuban yang kemudian hidup dan berkembang diluar tembok kraton sampai lahirnya bermacam macam varian tayuban (Ledhekan, Lengger, Ronggeng, Tandhaan, Janggrungan) seperti yang sekarang kita kenal.

Corak tayuban yang kemudian harus mengalami restorasi total, disesuaikan dengan pranata, pakem tarian kraton maupun etika kraton. Tayub nantinya  direstorasi menjadi varian baru yang lebih halus yang kita kenal sekarang dengan nama Tari Gambyong (Gambyongan).

Terdepaknya posisi tayuban dari Pradata kraton tentu bukanlah tanpa pertimbangan dan proses. Pada ulasan kali ini  kiranya lebih memerlukan analisa kualitatif  dalam membantu menguak misteri perjalanan tayub  sekaligus  menjelaskan  bagaimana tayuban yang semula  bagian adat kraton jawa kemudian berpurwa rupa  menjadi macam macam varian seperti yang kita kenal sekarang.

Bagaimana pada era kepemimpinan PB IV di Kasunanan Surakarta Hadiningrat tayub sudah tidak bisa dipertahankan lagi sebagai Pradata kraton kerajaan pewaris trah Mataram. Tentu saja peran PB IV menjadi  amat sentral dan strategis didalam menentukan dinamika perjalanan tayub.

Setidaknya ada  tiga ( 3 ) faktor yang berpengaruh besar dan memiliki korelasi dengan fenomena terdepaknya tradisi tayub dari adat kraton Jawa.  Ketiga faktor ini adalah Ketokohan sang Raja, Pengaruh Kolonial dan  Demoralisasi Bangsawan/Priyayi seputar Istana.

KETOKOHAN KEPEMIMPINAN  PB IV

Faktor ini  melihat profil PB IV terlepas dari statusnya sebagai raja Jawa, terlepas dari  legitimasi raja yang diperoleh dari garis keturunan (hubungan darah). PB IV adalah sosok yang memiliki pribadi komplit :

  1. PAKAR ILMU dan PAKAR NGELMU.

Kapasitas intelektual PB IV terbukti dengan bagaimana raja merombak total semua petinggi istana dari mendiang ayahnya (PB III) yang sangat lemah dan begitu pro kolonial. Strategi pengelolaan, diplomasi, bertahan menyerang (soft war) PB IV teruji dengan baik, bahkan sampai wafatnya sang raja (1820) baik kolonial Belanda maupun rival pewaris Mataram lainnya (Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat) tidak pernah berhasil melengserkan kedudukan PB IV. Kapasitas intelektual PB IV dilengkapi pula dengan gelar kultural yaitu Pujangga. Sebelum ilmu pengetahuan terspesialisasi seperti jaman sekarang maka semua berinduk pada filsafat. Uniknya gelar Pujangga adalah kombinasi dari Ilmuwan (ilmuwan jawa) dan Praktisi dalam sikap, tindakan maupun keteladanan hidup sehari hari. Sebagai pujangga besar jawa tentu saja tidak cukup dengan modal pengetahuan (seni, sastra, falsafah jawa, ilmu pemerintahan, falak dsb) namun dilihat (masyarakat) dari keteladanannya, lelaku (bersahaja, laku prihatin), cara bertutur / mengajar dengan tradisi lisan (melalui tembang / gendhing karena mayoritas masyarakat memang buta aksara dan baca). PB IV  menulis Serat Wulang Reh yang didalamnya memuat ajaran ahlak, cara hidup sebagai hamba Tuhan, bagaimana memilih guru, bagaimana menjadi pemimpin).

  1. TOKOH PENGGERAK ISLAM

– Merintis berkembangan syariat Islam mulai dari lingkungan kraton
– Mendirikan Masjid Agung Kasunanan
– Mendirikan pondok pondok pesantren. Ponpes Jamsaren Solo adalah pesantren tertua warisan PB IV. Pada awalnya bahkan raja sendiri mendatangkan ulama dari Banyumas (Kyai Haji Hasan Gabudan) untuk membantu pengembangan Islam di Kasunanan Surakarta.
– Mengangkat penasehat utama istana dari kalangan para ulama. Tercatat nama nama seperti Kyai Wiradidga, Kyai Panengah, Kyai Bahman, Kyai Kandhuruhan, Kyai Nur Saleh.
– Raja sendiri sering bertindak sebagai Khatib atau  Imam pada setiap Shalat Jumat di Masjid Agung Kasunanan

  1. TOKOH PANUTAN

PB IV berperan memberikan masukan, arahan, dukungan penuh didalam proses pembuatan Serat Cethini. Ini bisa dikatakan buku peradaban masyarakat jawa tertua yang paling lengkap, mencakup semua sektor kehidupan. Membutuhkan waktu 9 tahun pengerjaan (dari tahun 1814 – 1823)  dibawah  tim Trio Pujangga Surakarta yang harus menjelajah keseluruh pulau jawa (terbagi dalam tiga tim yang masing masing bertugas di jawa barat, jawa tengah dan jawa timur). PB IV adalah Guru dari Ronggowarsito, Pujangga kenamaan Surakarta. Ronggowarsito mengakui pada masa mudanya  berguru pada PB IV

  1. TOKOH ANTI PENINDASAN

PB IV konsisten menolak dan melawan kolonial baik semasa masih VOC (perkumpulan dagang) maupun setelah hindia belanda diambil alih langsung oleh pemerintah Belanda (setelah VOC  dinyatakan bangkrut kemudian dibubarkan dan koloni diambil alih langsung Pemerintah Belanda  dengan menempatkan Gubernur Jendral dan Residen di tiap kawasan)

5.TOKOH  FIGUR IDAMAN

PB IV dianugerahi  kelebihan fisik (postur tubuh) dan wajah yang tampan sehingga lebih dikenal sebagai Sunan Bagus.

KEPENTINGAN KOLONIAL, CAMPUR TANGAN TATA KELOLA DAN GAYA BERPESTA ALA EROPA

Sejarah telah mencatat bagaimana selepas era kepemimpinan Sultan Agung Tirtayasa kemudian mulai dari Amangkurat ke 1, Hamengkubuwana 1, Pakubuwana II (kakek PB IV) dan PB III (ayah PB IV) adalah deretan raja raja jawa yang tunduk atau pernah menjalin kerjasama dengan kolonial Belanda.

Bahkan yang terakhir kali (PB III), ayahanda PB IV lebih tenar sebagai raja boneka Belanda. Pada  awal tahta PB IV dijumpai kepentingan kolonial begitu masuk kedalam tata kelola kerajaan. Campur tangan kolonial tidak saja pada pembagian wilayah kekuasaan tetapi juga sampai pada aspek budaya, dalam hal ini apa yang disebutkan sebagai warisan budaya. Perjanjian Giyanti tahun 1755 memecah Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kolonial bahkan campur tangan di dalam menentukan tradisi, seni, tarian tarian apa saja yang diakui milik Yogyakarta dan mana yang diakui menjadi milik Surakarta.

Baca Juga:   Bagong Nggleleng tenan, wedine nek dha ora ngliwet..

Deretan raja raja jawa yang berhubungan mesra (menjalin kerjasama) dengan Belanda tentu saja tidak terlepas dari kontrak politik, lobi dan negosiasi yang didalamnya tidak terlepas dari pertemuan melalui jamuan jamuan acara. Dalam hal inilah kebiasaan jamuan dan gaya berpesta Belanda (ala eropa) jauh lebih permisif dan bertolak belakang dengan adat ketimuran (minum cognac, anggur, jenever, candhu), memegang tubuh penari wanita (pada jamuan pagelaran) telah menabrak norma norma ketertiban – kesusilaan  yang sebenarnya merupakan paugeran (aturan) ketat istana.

DEMORALISASI  BANGSAWAN / PRIYAYI

Bangsawan dalam hal ini dimaksudkan dengan kalangan sentana dalem (kerabat, keluarga besar raja, kasta kelas atas yang memiliki garis keturunan dengan raja-raja). Priyayi adalah bangsawan yang lebih terpelajar dalam arti cakap membaca, menulis, mengerti sastra dan filsafat jawa.

Kaum bangsawan baik yang terpelajar maupun yang buta aksara cukup banyak yang menentang (menolak) ketatnya pemberlakuan syariat Islam dalam kepemimpinan PB IV. Kalangan bangsawan / priyayi yang sebelumnya dimanjakan pada era PB III, hidup bersenang senang, hura hura dan terpengaruh gaya eropa dalam pesta-pesta perjamuan mulai dikurangi hak haknya (hak untuk bersenang senang).

Kalangan bangsawan yang sudah terbiasa (larut) dalam gaya hidup hedonis, bukan lagi menjadi teladan / acuan  hidup yang dianggap turut merusak moral bagi abdi dalem, para bawahannya.

Tumenggung Pringgoloyo dan tumenggung Mangkuyudo adalah contoh petinggi istana yang bergaya hidup hedonis, cenderung pro kolonial. PB IV kemudian langsung memecatnya dan berlanjut ke semua Pengageng Parentah yang memiliki kinerja dan moral buruk  untuk digantikan posisinya dengan yang lebih layak.

Ketiga faktor inilah (Ketokohan Raja, Dampak penindasan kolonial dan merosotnya moral bangsawan / priyayi) mendorong pilihan PB IV untuk tidak ragu ragu lagi menyingkirkan tayuban yang telah begitu tercemar dari lingkungan adat kraton.

Perombakan kabinet istana dalam lima tahun pertama masa kepemimpinannya (1788 – 1803) benar benar menunjukkan keseriusan raja untuk mengembalikan martabat manusia jawa dan menyatukan trah Mataram sebagaimana seperti kejayaan Mataram Islam dimasa pendahulunya, Sultan Agung.  Kabinet baru istana ini (didalam serat Wicara disebut sebagai Para Abdi Dalem Santri. Dalam Babad Penambangan disebut sebagai Santri Ngulama) mendukung sepenuhnya cita cita PB IV untuk mengembalikan legetimasi, kewibawaan dan penyatuan  trah Mataram  dalam satu kerajaan Islam. Kabinet Ulama Kasunanan bahkan berargumentasi bahwa Kasunanan Surakarta  Hadiningrat adalah Kerajaan lebih senior ketimbang  Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat  sehingga wajar bila menjadi kerajaan yang utama (Ricklef, MC : Sejarah Indonesia Modern).

Dalam kacamata orang yang “sangat terpelajar” PB IV memahami bagaimana merosotnya kewibawaan, kekuatan pewaris Mataram akibat perjanjian Giyanti dan Salatiga  (Mataram sudah dipecah menjadi empat wilayah kekuasaan (Kasultanan, Pakualaman, Kasunanan, Mangkunegaran). Dalam keteguhan prinsip untuk mengembalikan kehidupan kraton sesuai adat serta tata kelola pemerintah berdasarkan prinsip dan akidah Islam maka PB IV sampai pada satu titik  bahwa  tradisi tayub  (yang sudah tercemar) tidak layak lagi diertahankan sebagai bagian adat istana.

Sejarah mencatat bahwa bangkrutnya VOC (1799) tidak terlepas dari perilaku koruptif masif, gaya hidup hedonis, mark up anggaran (biaya perang), laporan hasil pampasan perang dll. Pada awal kepemimpinan PB IV inilah  kehidupan gaya hedonis, hura hura menjadi rutinitas. Tayuban  menjadi media paling favorit didalam melepas rutinitas tugas. Tayuban menjadi moment paling cocok untuk mengiringi acara minum minum (alkohol). Tayuban cenderung menjadi tarian profan sekuler, bukan lagi praktek adat, bukan lagi alat syiar Islam sebagaimana pernah digunakan para Walisongo dalam berkompromi terhadap tradisi jawa.

Serat Angger

Perihal bagaimana mengeluarkan tradisi Tayub dari adat istana maka tentu saja PB IV tetap berpedoman pada sistem hukum yang berlaku. Hukum positif (hukum yang berlaku) pada kerajaan jawa waktu itu masih berupa tradisi turun temurun yang terus dipegang teguh, pada paugeran (aturan) para raja pendahulu (yuris prudensi hukum). Semua regulasi akhirnya bersumber pada keputusan raja, maklumat raja. Kodifikasi sistem hukum inilah yang kemudian dinamakan dengan SERAT ANGGER PRADATA Kerajaan. Inilah mengapa PB IV menggunakan yuridiksi hukumnya  melalui maklumat raja untuk  secara resmi tidak lagi mengakui tayuban sebagai bagian dari praktek adat istana.

Setelah mengeluarkan tradisi tayub dari adat istana kemudian PB IV merangkum pandangannya, kerangka berfikirnya, harapannya dalam satu karya ajaran hidup manusia dalam karya fenomenal yang dikena dengan Serat Wulang Reh. Dalam memahami Wulang Reh sebagai buku ajaran moral maka  boleh jadi  buku ini merupakan  antitesa terhadap  tesa (fenomena tercemarnya tayub, merosotnya moral manusia). Wulang Reh adalah ajaran moral bagi para generasi penerus  bagaimana seseorang hidup sebagai hamba Tuhan, sebagai sesama manusia, sebagai pemimpin / pembesar bahkan sebagai raja, bagaimana manusia dalam belajar memilih guru yang baik, guru yang memiliki perhatian besar dan berpegang teguh  pada dasar dasar hukum Islam.

Pada sisi lain bila dicermati maka proses pembuatan serat Chentini ini benar-benar luar biasa. Centhini tidak saja merupakan karya sastra tetapi ini juga karya intelektual, betul betul berbasis data lapangan. Centhini mendiskripsikan, menganalisa, menyimpulkan berbagai sektor kehidupan / peradaban masyarakat jawa dengan langsung melalui data lapangan. Teknik pengumpulan data  melalui on the spot lapangan, dengan cakupan wilayah seluruh pulau jawa  adalah satu proyek besar yang  melampui jamannya, grounded research  ternyata sudah dimulai dari jaman Chentini, jaman bahkan ilmu pengetahuan dan tradisi ilmiah dunia akademis belum seperti pada era jaman sekarang. Ini dapat dikatakan bahwa ada sisi intelektual, sisi kepakaran sebagai ilmuwan dari seorang raja (PB IV) yang tentu saja menjadi bagian sentral dari arahan, diskusi maupun petunjuk petunjuk sebelum dan selama proses “penelitian” dilaksanakan. Karya Centhini memerlukan proses selama 9 tahun penuh (dari tahun 1814 – 1823). Perangkuman analisa dan diskripsi data lapangan sampai dengan kurasi akhir  kemudian ditulis lengkap dalam 12 jilid buku yang secara keseluruhan memuat lebih dari 4000 halaman. Ide dan selesainya eksekusi ide karya Centhini memang tidak keseluruhannya ada didalam masa kepemimpinan PB IV (PB IV wafat tahun 1820, Centhini selesai di tahun 1823) namun kerangka berpikir, muatan / cakupan sektor kehidupan yang diteliti tentu sudah selesai dan kontribusi arahan raja menjadi bagian penting selama proses pembuatan karya.

Baca Juga:   Pasar Windu Jenar

Kita sekarang bisa melihat lebih lanjut bagaimana pembagian kerja Tim lapangan dalam proses karya Centhini ini . Tim peneliti dibagi dalam 3 grupyang masing masing dipimpin seorang pujangga kenamaan pada masa itu .

  1. Tim pertama dibawah pimpinan R.Ng. (Raden Ngabehi) Rangga Sutrisna. Betugas dan fokus pada pulau jawa bagian timur (sekarang disebut Jawa timur).
  2. Tim kedua dibawah pimpinan R.Ng. Yasadipura II yang bertugas dan fokus pada sluruh area Jawa bagan barat (Jawa barat).
  3. Tim ketiga dibawah kepemimpinan R.Ng. Sastradipura yang khusus memperdalam praktek seluruh sektor kehidupan dari sisi kaidah Islam. Sastradipura ini bahkan selama proses pembuatan karya Centhini juga menyempatkan menunaikan ibadah haji sekaligus menyempurnakan pengetahuan dan praktek Islam dalam kehidupannya. R.Ng.Sastradipura sekaligus sebagai koordinator tim. R.Ng. Sastradipura ini adalah Adipati Anom yang kelak menduduki tahta sebagai raja (PB V) dan sekaligus bertindak sebagai Editor & Kurator selama proses pembuatan karya. Didalam catatan sejarah Centhini diketahui bahwa R.Ng. Sastradipura ini (ketika sudah menjadi raja / PB V) bahkan harus merevisi cukup banyak diskripsi serta analisa materi khusus yang dijadikan obyek penelitian. Materi itu meliputi praktek seni tradisi berserta ragam praktek / kehidupan seksual dari mayarakat lintas kasta (golongan bangsawan/priyayi samapai dengan rakyat jelata) karena diskripsi masih dianggap terlalu samar, terlalu halus dan rawan bias tafsir. Revisi dan kurasi meyeluruh dilakukan (tahun 1821-1823) saat sudah memegang tahta raja (PB V) dengan mendiskripsikan hasil data lapangan  dengan ulasan, analisa yang lebih runtut, gamblang bahkan vulgar yang mungki saja pada jaman itu  khalayak umum masih menganggap sebagai hal tabu untuk dibahas ,dipublikasikan, menabrak kaidah penulisan  yang semestinya tunduk pada adat ketimuran (artinya melalui perlambang / simbul / sanepo). Namun justru analia berdasar data apa adanya inilah yang merupakan kekuatan Chentini. Centhini kemudian dianggap sebagai Baboning Pangawikan Jawi (Induk pengetahuan peradaban masyarakat jawa yang berbasis data lapangan). Cethini adalah buku pegangan paling lengkap, paling detil tentang semua sektor kehidupan jawa pada masa itu. Pendek kata Centhini adalah buku segala persoalan. Biaya pembuatan Centhini ini menguras anggaran senilai +/- 10.000 gulden yang sepenuhnya ditanggung Kerajaan melalui Adipati Anom. Selama 9 tahun keseluruhan tim meneliti sektor sektor :

– Sektor kejawen (praktek kebatinan, kekebalan, kanuragan dan dunia keris)
– Pengetahuan tentang hewan hewan dan tanaman
– Praktek praktek dalam pengobatan dan perkembangan ilmu pengobatan
– Teknologi pembangunan rumah (arsitektur)
– Teknologi pertanian
– Kuliner dan Fashion
– Adat istiadat yang berlaku dan yang dijalankan didalam praktek kehidupan
– Karawitan, seni lainnya yang hidup dimasyarakat
– Sikap beragama dan perkembangan kehidupan beragama (praktek syiar agama)
– Tayuban dan praktek praktek perilaku seksual yang ada disekelilingnya

Dari Chentini inilah kita bisa melihat praktek tayuban berserta corak perilaku (kecenderungn perilaku yang mengarah ke seksual). Hal ini paralel dengan Raja (PB IV) yang melihat betapa kemerosotan moral para bangsawan / priyayi juga merupakan ekses gaya hedonis eropa (Belanda), juga melalui pagelaran tayub yang sudah tercemar. Penggalian data lapangan tentu sesuai dengan maksud raja sehingga didapat kesimpulan menyeluruh terhadap praktek sektor sektor kehidupan (termasuk dampak tayuban) di masyarakat yang tidak saja berdasar pada fenomena sekitar Istana tetapi menyeluruh  bahkan seluruh pulau Jawa.

Dari hasil pngumpulan data, analisa dan diskripsi yang terkait dengan praktek tayuban berserta perilaku seksual disekelilingnya inilah didapat bukti bukti dan benang merah dari data lapangan. Praktek praktek buka kelambu yang lazim dilakukan pasca pagelaran tayuban juga dibahas cukup detil (seperti contoh buku Centhini Jilid IV, pupuh 356, bait 162, Dandhang Gula ) sebagai berikut :

Iki mau duk Ki Adipati
Anggarejeg kembenku linukar
Sun Benakken lukar maneh
Sinjang ingong rinangkul
Lajeng dheprok dheprok tinarik
Lambungku nyeng den angkat
Angadeg rinangkul
Ngong  nangis anyengkah nyengkah
Kinukuhan ngapithing sarwi ngarasi
Anguyeg payudara

bila diterjemahkan,

Ini tadi kemudian Ki Adipati
Membujuk dan memaksa kemben (baju) untuk dilepas
Saya (coba) betulkan namun terlepas lagi
Baju bawah (jarit) kemudian juga diambil (ditarik)
Saya sampai jatuh terduduk
Pinggang saya kemudian diangkat
Berdiri dirangkul
Saya menangis dan mencoba berontak
Tetapi rangkulan itu terasa semakin mengeras dan menjepit
Sambil memainkan (meremas) payudara

Centhini bisa dikatakan produk hasil audit sektor kehidupan yang secara “akademis” menurut parameter era waktu itu bisa dipertanggung jawabkan. Satu lagi pernyataan Elizabet D. Inandiak (seorang kontributor Surat kabar ternama Perancis yang berhasil menterjemahkan 12 jilid Centhini dalam dua bahasa, Indonesia dan Perancis)  cukup mengagetkan :

– Tayuban dengan ronggengnya yang digelar dalam sendratari Panji dirumah seorang seorang Bupati dalam prakteknya rawan sekali dengan tindakan asusila
– Bahkan tarian ronggeng dengan iringan rebanapun di suatu  pesantren tetap saja diwarnai dengan tingkah polah beberapa orang yang mengumbar nafsu (sex) nya, menerjang norma norma kesusilaan dan kaidah Agama yang berlaku

Baca Juga:   Mbah Waluyo, cerdas mengolah kata, dagelan lucu penuh petuah

Centhini mengulas secara gamblang tetabuhan tayub, sinden, ronggeng / tledek dengan cukup mendetil. Kisah randa Sembada  dan Jayenggraga  serta Kulawirya  bukanlah peran tokoh tokoh fiktif. Tokoh ini nyata  dan memang berbasis kejadian nyata di wilayah penelitian Centhini yang mecakup  Jawa bagian timur, tengah dan barat.  Kesimpulan audit Centhini yang berkaitan dengan praktek tradisi tayubanpun cukup mencengangkan,

– Hasrat berlebihan didalam praktek perilaku seksual ternyata bukanlah melulu menjadi domain kaum laki laki
– Praktek memanfaatkan konsep PENGGALAK ternyata juga ditemukan dalam banyak sampel  yaitu sebagai strategi  pembangkit birahi (hasrat sekseual). Penggalak adalah upaya memanfaatkan wanita usia lebih muda (sebagai wanita kedua, ketiga dan seterusnya) untuk membangkitkan birahi terutama pada kaum bangsawan dan priyayi. Bagi si Penggalak  sendiri  akan  berarti ada harapan untuk menaikkan status (menjadi wanita kedua / selir kedua dst), ada harapan naiknya status ekonomi dan sosial ketika berhasil dipersunting bangsawan dalam  mencari / menambah selir  dari status semula yang hanya Centhini ), potensi pelanggaran norma susila bahkan sudah masuk di wilayah pesantren.

Aspek Ketokohan PB IV kembali terbukti ketika raja tidak serta merta menggusur dan menghilangkan begitu saja tradisi tayuban dari kehisupan dalam istana Jawa. PB IV tetap mengkomodir sisi positif tradisi tayuban dalam hal:

– kelebihan aspek  kenes, gandes luwes (energik dan eksotis) tayuban
– membuka ruang bagi penikmat (penonton) untuk turut menari (menjadi subyek) didalam pagelaran tarian
– Membuka ruang untuk eksplorasi gerakan / improviasi menari secara spontan  (baik badi tledek maupun pasangan menarinya)

Pada ekses negatif memang sering terjadi ,

– Tarian menjadi melenceng dari pakem tari tradisi, cenderug permisif (longgar terhadap norma norma), cenderung menjadi sekuler, menjadi tarian profan yang semakin jauh dari kaidah kehidupan beragama

Pada era kepemimpinan PB IV memang dalam dunia Tledek  muncul nama nama penayub terkenal seperti Mbok Gendro, Ni Madu, Nyi Surat dan Sri Gambyong. Dari sekian deretan penayub papan atas inilah muncul tokoh Sri Gambyong yang dianggap mampu mendemonstrasikan tarian tayub  yang diperhalus tanpa meninggalkan kesan gandes luwes dan kenes (eksotis dan genit yang terukur).

Nama lengkap tokoh ini adalah Nyi Mas Ageng Gambyong atau  Nyi Mas Ageng Sri Gambyong.  Sri Gambyong inilah yang kemudian membuat PB IV terkesan dengan model tayub yang direstorasi  yang kala itu dierkenalkan sebagai Glondrong.  Tariannya tetap energik, lincah dan tidak monoton  bila dibanding dengan tari tradisi lain yang cenderung lemah gemulai. Dari Glondrong inilah  muncul ide raja untuk  tetap mempertahankan sisi positif tayuban  agar akar tradisi tidak hilang / putus sama sekali dari kehidupan dalam istana Jawa. PB IV kemudian merestorasi total model tayuban agar tidak jauh melenceng dari kaidah agama. Nama Gambyong sendiri kemudian diabadikan (menggantikan istilah Glondrong) untuk menghargai dedikasi Sri Gambyong didalam upaya restorasi tayuban.

Ilustrasi (impresif) proses tayuban sedang direstorasi
Ilustrasi (impresif) proses tayuban sedang direstorasi

Terkait bagaimana batasan batasan tayuban yang direstorasi secara garis besar dapat dijelaskan dibawah ini,

– Dalam tradisi Gambyong tidak ada praktek Pasuwelan (memberi tip, apalagi menyelipkan uang dibalik kemben penari.
– Tidak ada penikmat / penonton / penari pria yang  boleh ikut menari (menjadi pasangan penari). Artinya pada Gambyong ruang memberi kesempatan penikmat (mengalungkan selendang / sampur untuk menawarkan ikut menari ) dihapus.
– Dilarang keras praktek praktek madat (minum tuak / alkohol) yang berlaku menyeuruh baik penari, penonton, penabuh musik (gamelan).
– Dilarang memperlihatkan betis penari ataupun mengangkat kain (jarit).
– (Dilarang mengguncang guncangkan dada Dilarang melakukan lirikan mata (berlebihan) dengan maksud menggoda
(Prof. DR. Sri Rochana :  Sejarah Tari Gambyong. Seni Rakyat Menuju Istana).

Istilah gambyong atau gambyongan kemudian dikenal sebagai pengganti tayuban. Gambyong inilah kemudian yang dikembangkan dan menjadi bagian dari adat istana Jawa. Sementara Tayuban kemudian hidup dan berkembang diluar tembok kraton Jawa.

Menilik selesainya proses karya Centhini dalam 12 jilid buku pada tahun 1823 maka dapat diketahui proses restorasi Tayuban menjadi Gambyong telah benar benar selesai. Catatan dalam Centhini tentang munculnya istilah Gambyong adalah catatan tertua yang penulis temukan. Berikut contoh ulasan terkait Gambyong dalam catatan Centhini,

Serat Centhini

Ni Randa nyauri Aris
Nggih leres sedhenge gambyong
Mider Ni Sembada alon matur mring tamunireki
Sumangga ing sakersa luware nadar kawula
(diambil dari Pupuh 193, bait 1, tembang Wirangrong, Serat Centhini)

Terjemahannya ,

Ni Randa menjawab pelan
Ya benar  nanti sampai pada saatnya Gambyong
Sambil berkeliling Ni Sembada memberi para tamu
Silakan mengikuti acara itu
Sebagai pembebasan janji ( nazar ) Raja

Pada akhir uraian fakta ke lima inilah kita dapat memahami peran sentral PB IV, seorang raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat  yang menentukan perjalanan hidup sejarah Tayuban  sampai kemudian menjadi ragam corak tarian rakyat biasa yang berkembang  dan masih hidup pada waktu era sekarang.

Kita juga dapat memahami pertimbangan, alasan raja ketika menggusur tradisi tledek dari adat kehisupan dalam istana jawa. Spirit tayub tetap ada dalam kemasan Gambyongan tanpa meninggalkan aspek energik, lincah, genit dan eksotik. Eksplorasi gerakan lebih bebas tetap terbuka pada pengembangan Gambyong  namun berbagai ekses negatif sudah diminimalisir melalui batasan batasan hasil restorasi. Alasan faktor-faktor kemerosotan moral bangsawan / priyayi, faktor pengaruh kebiasan berpesta ala Eropa dan faktor mengembalikan kejayaan Mataram Islam (penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara) menjadi dasar keputusan PB IV melalui Serat Angger Pradata.

BERSAMBUNG Pada Fakta Keenam: Perkembangan Mititisme Tayuban Diluar Kehidupan Tembok Kraton Jawa.

Penulis : P.Prasto H. (Kontributor Budaya & Koordinator di Pepeling Art)