Nasib Tayuban Mulai Tercemar di Era Kolonial Belanda (Fakta Ke-4)

0
203
Nasib Tayuban Mulai Tercemar di Era Kolonial Belanda (Fakta Ke-4)

Pada ulasan kali ini kita terus mengikuti perjalanan sejarah tayub sampai pada masa dimana tayuban menjadi begitu tercemar dari semula sebagai bagian adat adiluhung istana Jawa kemudian mulai dimasuki gaya berpesta orang orang eropa (Belanda) dan akhirnya benar benar tergusur dari kehidupan dalam tembok kraton Jawa.

Ini diawali tahun 1596 ketika Cornelis D’Hotman – pedagang Belanda – berhasil mendaratkan armada kapal kapal ekspedisinya di pelabuhan Banten. Memang harapannya untuk menguasai surga rempah rempah gagal total (kurang dari tiga tahun D’Hotman dkk malah diusir pulang).

Tapi hebatnya tiga tahun kemudian (dari diusir tahun 1599) seluruh pedagang Belanda hanya membutuhkan beberapa tahun (sekitar TIGA TAHUN) untuk kemudian bersatu membentuk VOC di tahun 1602. VOC inilah yang kemudian berkembang sedemikian rupa menjadi konglomerasi koperasi, menaklukkan satu persatu penguasa kepulauan rempah rempah seantero Nusantara (termasuk kerajaan di Jawa). Belanda yang semula sebagai broker, pengecer rempah dari Portugis lalu mengambil alih monopoli dan menjadikan Hindia Belanda sebagai kawasan koloni.

Narasi diatas tentu mengulang kesekian kali seperti yang pernah kita dapat dalam pelajaran text resmi buku buku sejarah. Tetapi lensa sejarah yang akan kita perhatikan sekarang bukanlah urusan monopoli rempah, kisah heroisme pertempuran para raja ataupun lihainya politik memecah belah & menguasai (Devide At Impera) melainkan bagaimana pada sisi lain (budaya) kolonial Belanda ini ternyata juga ‘memecah belah’ dan ‘menguasai’ tayuban.

MEMECAH BELAH dalam hal ini dimaksudkan bahwa pecah belahnya tradisi tayuban dalam berbagai varian yang seperti kita kenal sekarang ini (ronggengan, Ledhek, Lengger, Tandhak, Janggrungan sampai Jaipongan) tidak bisa dilepaskan dari sejarah awalnya, proses panjang akibat pengaruh kebiasaan berpesta gaya eropa dari Belanda ketika menndapat jamuan tayuban dari para penguasa /raja jawa yang berhasil ditaklukkan VOC ataupun yang berkerjasama dengan VOC didalam perebutan tahta raja Jawa. Tayub nantinya terdepak dari kehidupan dalam kraton jawa dan kemudian hidup diluar adat kraton. Berkembang sesuai kerarifan lokal daerah masing masing.

Baca Juga:   Makna 1 Syuro Bagi Masyarakat Jawa

MENGUASAI dapat dipahami sebagai masuknya pengaruh kebiasaan memberi TIP/FEE sebagai kompensasi layanan jasa ala adat barat. Tradisi pemberian fee ini kemudian berkembang menjadi istilah yang kemudian lebih familiar disebut Tradisi Pasuwelan (menyelipkan uang ke balik kemben penari tayub). Kebiasaan buruk para serdadu Belanda yang suka minum beralkohol (Jenever, cognac) berpengaruh pula pada corak gaya hidup hedonis (hedonisme) dikalangan para bangsawan dan priyayi istana yang telah mendapat bantuan VOC (baik dalam perebutan tahta, pemberontakan, ataupun sebaliknya dalam menumpas pembrontakan pemberontakan pemberontakan.

MENGUASAI disini dapat pula diartikan bahwa pengaruh gaya berpesta barat yang dipertunjukkan orang orang belanda turut menjadi penyebab utama hilangnya sakralitas tayuban. Tayuban kemudian menjadi acara ataupun pagelaran yang mengarah pada aroma sensualitas (erotisme ditengah orang setengah mabuk).

Bagaimana hal demikian bisa terjadi? kita bisa menyimak lebih detil sisi lain Lorong waktu perjalanan tayuban di era kolonial.
Pada era Kejayaan Mataram islam di masa kepemimpinan Sultan Agung Tirtayasa (sampai tahun 1645 masehi) wilayah kekuasaannya tidak terbatas pada pulau Jawa tetapi juga sampai Madura. Posisi tayuban masih kokoh sebagai bagian dari adat istana. Memang tercatat dua kali Sultan Agung bentrok hebat dan menyerang VOC di Batavia. Meskipun gagal namun sebaliknya VOC sendiri tidak bisa benar benar masuk dan menguasai Mataram sampai akhir kekuasan sultan terbesar Mataram ini.

Titik balik yang nanti akhirnya mempengaruhi nasib tayuban mulai terjadi pasca lengsernya (wafatnya) Sultan Agung. Ini terjadi pada masa Amangkurat 1 (sampai tahun 1677 masehi). Raja yang terkenal bengis dan banyak sisi gelapnya ini mulai menjalin hubungan mesra dengan Belanda. Puncaknya ketika meminta bantuan VOC menumpas pemberontakan Trunajaya. Pada satu sisi tentu ada kompensasi bagi VOC seperti penggantian biaya pertempuran, kontrak-kontrak politik istana, politik ekonomi (seperti transaksi jual beli layaknya pasar namun dijualbelikan adalah pengaruh, ketundukan, kebijakan). Hal ini tentu sudah menjadi bahasan para ahli sejarah. Berkaitan dengan latar belakang inilah berangsur angsur memiliki pengaruh terhadap status tradisi tayuban.

Baca Juga:   Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo

Kedudukan tayuban mulai bergeser menjadi bagian dari alat politik istana .Pagelaran tayuban kemudian bagian sentral dari acara penyambutan para tamu belanda. Acara tayuban juga menjadi bagian dari acara perayaan kemenangan setelah pertempuran pertempuran (pertempuran para penguasa Jawa yang mendapat bantuan VOC). Gelar tayub juga menjadi bagian dari diplomasi, lobi dalam kontrak kerjasama dengan Belanda terutama, pada era kepemimpinan raja jawa yang berhasil ditundukkan VOC.

Adanya pelayanan khusus dari penari tayub (penari tayub sekaligus menjadi agen istana) setelah selesainya pagelaran tayuban bisa dilakukan melalui bilik bilik khusus. Tradisi pasuwelan / tip diberikan pembesar / perwira Belanda dibalik bilik khusus pada sang penari). Fenomena ini sangat masuk akal karena pada satu sisi tentunya para pendatang Belanda, prajurit Belanda tidak mungkin membawa serta istri atau pasangan masing masing dari tempat asalnya. Pada sisi lainnya berhasilnya suatu lobi ataupun kontrak kerjasama dengan Belanda menjadi tujuan yang lebih penting ketimbang ribut masalah Pasuwelan. Fenomena pasuwelan dalam tayub mungkin dianggap biasa, bukan kejadian istimewa sehingga wajar bila luput dari pembahasan dalam text buku pelajaran sejarah mainstream.

Kita lebih sering menemukan kisah heroisme para pahlawan pada ratusan tahun masa kolonial, perjuangan para raja yang anti VOC, konflik internal para elite kraton jawa sampai dengan tarik menarik kepentingan kepentingan kolonial dalam perjalanan tahta raja raja jawa.

Baca Juga:   5 Fakta Menarik Kota Boyolali

Sedikit gambaran posisi dilematis tayub di era kolonial ini kira kira bisa dicatat:

  • Pada acara perayaan kemenangan pertempuran (yang melibatkan VOC) atau pada acara jamuan terhadap tamu VOC tidak bisa dielakkan masuk juga perilaku barat yang berbeda sama sekali dengan adat ketimuran Jawa. Longgarnya norma sosial ala barat seperti memegang sampai mencolek bahkan mencium Dedungik Sontrang (istilah penari tayub) cenderung diabaikan oleh tuan rumah penjamu (raja atau yang mewakili Istana).
  • Keberhasilan lobi politik, mendapat kontrak kerjasama atau mencapai / merebut kedudukan dalam konflik tahta akan jauh lebih penting ketimbang bentrok gara gara perbedaan gaya (norma) dalam gelaran tayub. Gelaran tayub cenderung menjadi tarian politik.
    Fakta sejarah ke 4 ini telah mencoba memotret nasib tayuban di era kolonial. Tayub berada pada posisi dilematis antara adat adiluhung kraton jawa dengan bagian alat politik perjalanan raja raja jawa yang sengaja atau terpaksa pro belanda.
    Dalam perjalanan sejarah kolonial tercatat ada satu kali masa gubernur jendral Belanda digantikan Raffles (Inggris) yaitu di tahun 1811 – 1816.
    Satu hal yang sangat menarik adalah bahwa ditengah sibuknya masa penugasan Raffles, masih sempat meneliti sejarah mentalitas Jawa yang kemudian sangat terkenal bukunya, HISTORY OF JAVA. Tapi apa pernyataan fenomenalnya tentang tayub dalam buku laris ini? Raffles melihat Tayuban seperti layaknya Prostitusi terselubung.

Penulis : P.Prasto H. (Kontributor Budaya & Koordinator di Pepeling Art)