Mengapa Putera Mahkota Raja Jawa Wajib Ujian Tayub Sebelum Naik Tahta? (Fakta Ke-3)

0
125

WARTASURAKARTA.COM – Inilah fakta ketiga dalam menguak misteri perjalanan sejarah panjang tayuban yaitu era putera mahkota raja jawa wajib menjalani ujian tayub sebelum nantinya tahta raja diserahkan pada waktunya. Jika dibayangkan ada RITUAL HOT untuk menguji calon raja Jawa anda tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah.

Wajib ujian tayub itu bertahan antara periode tahun 1600 an sampai tahun 1788. Bertahan hampir sekitar 2 abad.

Raja Jawa dan Putera Mahkota

Fakta sejarah yang satu ini nyaris tenggelam begitu dalam tertimbun tebalnya lipatan jaman. Ini dimulai dari ajaran Asthabrata dan simbol THALEDHEK. Apa itu Asthabrata, Mengapa Tayub jadi bahan ujian Calon tahta raja jawa dan bagaimana kira kira rekonstruksinya? dalam ulasan kali ini akan kita kupas satu persatu.

Perpustakaan Wirapustaka Pakualaman, Yogya

Dimulai dari masa kejayaan kerajaan Mataram Islam di era Sultan Agung (1593-1645 M) istilah Thaledhek ada diseputar kehidupan dalam kraton. Kata Thaledek ini sebenarnya sudah ada di jaman Majapahit. Sekarang kita mengenalnya sebagai Tledek atau Ledhek. Mbeksa Thaledhek berarti Hambek Yang Esa atau taat pada Yang Esa. Thaledhek berarti menggoda. Ledhek adalah simbol godaan.. Meledheki (dalam bahasa jawa berarti menggoda).

Dedungik Sontrang

Seiring masuknya Islam ke jawa melalui para Walisongo muncullah istilah Thoyib (Thoyibban) yang berarti Hal Baik. Orang yang Lolos dari Godaan nafsu adalah hal yang baik. Dari kata Thoyib inilah pada era sekarang lebih familiar disebut TAYUB.
awalnya Sultan Agung menggunakan Mbeksa (beksan atau tarian) tayub sebagai tarian adat dalam acara Jumenengan (yaitu acara ulang tahun naiknya tahta raja). Banyak para penari tayub disebut sebagai DEDUNGIK SONTRANG. Dedungik artinya menyambut dayoh / tamu kehormatan. Sontrang artinya memasak, menebar, mengolah. Dedungik Sontrang diartikan cara mengolah, melakukan setting kedatangan tamu di acara jumenengan dengan tarian Thoyib atau Tayub.

Thaledhek – Simbol Penggoda
Sultan Agung (diambil dari tokoh film yang merujuk lukisan sultan Agung)

Menariknya, Thaledek ini kemudian dijadikan bagian dari RITUAL ASTHABRATA yaitu satu pelajaran wajib bagi Putera Mahkota raja jawa didalam mempersiapkan menerima tahta raja.

Apa itu Asthabrata? ini ajaran kepemimpinan berdasar 8 prinsip pengendalian diri seorang Pemimpin. Asthabrata ini semula berasal dari Kakawin Ramayana, tentang sifat sifat keteladanan para Dewa dalam ajaran Hindu, termasuk 5 MA (Mamsa : pantang makan daging, Matsya : ikan, Madya : bebas alkohol / mabuk, Maithuna : zina hubungan badan dan Mudra : sikap, tangan, melukai). Kita sekarang mengenal dalam falsafah jawa yang biasa disebut MALIMA (main, maling, madat, madon, mabuk/minum).

Kakawin Ramayana

8 prinsip pengendalian diri calon pemimpin ini seperti dikatakan KGPA Pakualam X lalu diringkas menjadi EMPAT KARAKTER UTAMA calon raja yaitu :
– Ngadeg (teguh beragama)
– Sabar (Tenang dan berjiwa Ksatriya)
– Bener (Berhati lurus)
– KUWAT (Tahan godaan nafsu)

Kita menjadi sedikit jelas bahwa dalam rangka menguji karakter KUWAT calon raja inilah diperlukan ritual tambahan dalam pelajaran Asthabrata. Inilah periode awal yang dilakukan mulai era Sultan Agung.
Ledhek dalam tayuban menjadi simbol penggoda yang harus dilaksanakan secara maksimal oleh seorang penari yang benar benar khusus dalam membantu raja menguji putera mahkota diakhir pelajaran Asthabrata. Jadi pada era kepemimpinan Sultan Agung ada dua fungsi utama dan membedakan pula corak pagelaran tayuban didalam praktek lapangannya.

A. Corak Dedungik Sontrang yaitu adat reguler setiap kali acara jumenengan raja. Para penarinya bisa banyak, Sindennya dan penari bisa orang yang berbeda. Masing masing penari bisa menjemput para tamu kehormatan pada acara ulang tahun tahta sang raja.

B. Corak MBEKSA THALEDHEK. Penari sekaligus sinden hanya 1 orang. Sangat khusus, biasanya dilakukan hanya sekali dalam 1 periode tahta raja. Ledhek harus lolos syarat syarat pang super ketat. Mbeksa Thaledhek ini adalah Jenis Tayub dalam Puncak Sakralitasnya karena hanya boleh disaksikan 1 orang saja, yaitu Raja.
Ujian tayuban bagi pangeran yang terpilih sebagai Putera Mahkota ini tentu semakin menarik dan semakin membuat penasaran. Tayuban yang mengiringi sejarah panjang timbul tenggelamnya tahta para raja jawa seperti misteri dibalik tembok kraton-kraton. Menjadi rahasia yang mungkin sedikit sekali ditulis didalam text-text buku sejarah resmi dalam dunia akademis. Bagaimanapun juga kita akan melakukan rekonstruksi prosesi tayuban dalam satu rangkaian ritual Asthabrata. Meskipun ini diolah dari berbagai keterbatasan sumber, ada faktor imajinasi subyektif penulis dan tentu ada faktor penafsiran sehingga mustahil akan benar benar persis sama.
Asthabrata yang didalamnya mencakup ritual tayuban bila direntang perjalanan sejarahnya kira kira mencakup hampir 200 tahun yaitu pada era kepemimpinan raja-raja:

Baca Juga:   Santapan Aneh Para Raja

1. Era Sultan Agung Tirtayasa (sampai dengan tahun 1645)

2. Era Amangkurat I (1645 – 1677)

3. Era Amangkurat II (1677 – 1703)

4. Era Amangkurat III (1703 – 1708)

5. Era Pakubuwono I / Sunan Puger (1708 – 1719)

6. Era Amangkurat IV (1719 – 1727)

7. Era Pakubuwono II (sampai tahun 1749)

8. Era Pakubuwana III (1749 – 1788)

Pada era kepemimpinan Pakubuwono IV Tayub sudah TIDAK MENJADI lagi bagian dari Asthabrata. Pada waktu itu Kondisi Mataram sudah terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, untuk wilayah Yogyakarta Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Hamengkubuwana ke 1. Diperkirakan pula ritual tayuban pada saat berdirinya Kasultanan Yogyakarta hadiningrat sudah tidak lagi menjadi bagian dari ajaran Asthabrata. Hal ini masuk akal karena kedua trah pewaris Mataram ketika dipecah kolonial Belanda kemudian antara Kasunanan Surakarta dengan dengan Kasultanan Yogyakarta terjadi rivalitas budaya yang cukup tajam. Dengan merujuk pada maklumat Pakubuwana ke IV (diulas selanjutnya dalam fakta tersendiri) maka ritual tayuban sebagai bagian ujian Asthabrata berakhir pada era kepemimpinan Pakubuwana ke IV ( 1788 – 1820).

Kita lihat perjalanan sakralitas tayuban yang membentang panjang mengiringi pelajaran Asthabrata dengan setia mulai era kejayaan Mataram Islam Sultan Agung, era masa Amangkurat, era Kasunanan Kartasura dan era Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat berikut Kadipaten Pakualamannya serta era Kasunanan Surakarta Hadiningrat berikut Kadipaten (Praja) Mangkunegaran.

Setelah periodisasi waktu bisa direkonstruksi kemudian sekarang berlanjut pada rekonstruksi prosesi tayubnya. Proses memilih putera mahkota tentu tidak seketika langsung menunjuk putera tertua dari prameswari raja. Pasti ada serangkaian pertimbangan lain. Pertimbangan ini tentu saja berkaitan dengan posisi raja dikemudian hari. Raja adalah sebagai pemilik sekaligus produksen semua regulasi kerajaan. Sebagai pembuat regulasi (sabda pandhita ratu) maka (setiap kata / instruksi) tidak bisa ditarik balik. Raja harus mampu menyelesaikan masalah masalah besar atau konsekuensinya bila gagal sedikit bisa saja kandas ditengah jalan.

Pemilihan putera mahkota tentu melihat juga seberapa mampu menyerap asupan banyak ajaran seperti ajaran agama, bahasa, seni-sastra, strategi perang, ilmu kanuragan, ilmu kadigdayan, falsafah hidup, praktek lelaku, pengetahuan, pengobatan dll yang ujungnya mengerucut pada kemampuan memimpin dan harus melalui pelajaran Asthabrata dengan ritual tayubannya.

Setelah raja memutuskan siapa yang berhak menjadi Putera Mahkota maka dalam hubungannya dengan penyiapan ritual tayub bisa digambarkan dalam tahap tahap :

PERTAMA
Prasyarat Putera mahkota sebelum diuji tayub. Usia sudah dianggap dewasa, siap secara mental dan fisik, dibekali tentang protokoler ritual

KEDUA
Pernyiapan ruang dan suasana (nuansa). Menentukan lokasi, luas area, penataan property (tetabuhan gamelan, para niyaga/ penabuhnya, kostum, sesaji, doa, mantra, wewangian, air/tirto wening dsb).

KETIGA
Persiapan waktu. Menyangkut hitungan bulan, hari, jam, weton, durasi dst.

Setelah rangkaian persiapan dianggap cukup maka diputuskan :Ritual Tayub menjadi akhir pelajaran / ujian dari Asthabrata secara maraton. Artinya begini, dalam satu waktu yang panjang mulai dari wejangan / kuliah / ular ular berlanjut ke tanya jawab / diskusi raja dengan putera mahkota, berlanjut ke ujian pertanyaan dari raja dan diakhiri dengan ujian tayuban. Bisa digambarkan luasnya materi seperti bagaimana taktik menyerang, strategi bertahan, tata kelola pemerintahan, menjaga rahasia dalam kraton, memilih penasehat istana, mengelola selir selir dalam istana dan kemudian berakhir di ujian tayuban. Atau bisa saja, Dilaksanakan dalam beberapa hari / minggu.

Baca Juga:   Menguak Misteri 1000 Tahun Perjalanan Tayub (Fakta Ke-1)

Dibedakan antara Asthabrata dan ujian tayub. Artinya pelajaran Astabrata ada waktu sendiri kemudian prosesi tayub dijadwalkanjuga tersendiri dalam waktu yang khusus.

Mekanisme persiapan, corak persiapan dan intensitas uji tayub tentu menjadi keputusan mutlak raja meskipun mungkin saja sebelumnya ada pertemuan khusus untuk mendapat masukan dari prameswari ataupun penasehat Istana.

Yang lebih menarik adalah bagaimana menentukan, memilih seorang THALEDHEK untuk mendapat kehormatan sebagai simbol penggoda Putera Mahkota dalam uji tayub nantinya.

Kita bisa membayangkan ada semacam LEDHEK IDOL, ada Tim Khusus secara rahasia keliling mulai dari area ndalem Kraton sampai ke seluruh daerah kekuasaan raja untuk mendapatkan nominasi profil Thaledhek yang diinginkan.

Ketatnya prasyarat profil Thaledhek khusus Asthabrata kurang lebih harus memenuhi syarat syarat :

  • Perawan ting ting, beranjak dewasa
  • Berasal dari kalangan atas dan berdarah biru (keturunan bangsawan kraton)
  • Dinilai patuh pada ajaran agama
  • Penilaian tentang kecakapan sastra, sen, subaseta / protokol tatakrama. Berkaitan dengan apa yang kita kenal dengan pertimbangan bobot dan bebet
  • Pesona fisik. Tubuh, perawakan, kulit, rambut, paras muka, tinggi badan, perbandingan dengan postur tubuh Putera Mahkota.
  • Kualitas nyinden. Suara merdu, kemampuan hafalan gendhing & maksud syair dan sejarahnya.
  • Kualitas Waranggan. Kelihaian menari, keluwesan bergerak, kekhususan dalam bergoyang /ngigel, kecakapan mengatur jarak, kelebihan dalam tatapan mata dsb.
  • Pengetahuan khusus tentang hubungan pria & wanita, katuranggan atau hal hal yang sekarang kita kenal dengan Kamasutera, kamajaya (pengetahuan sexsual), kemampuan memilih syair, suluk, gendhing yang memang cocok untuk ujian / godaan.
  • Pesona Berias. Kecakapan berdandan yang paling cocok dengan taste raja, dengan taste putera mahkota.
  • Pemahaman Protokoler. Tahu detil apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tahu tentang doa, sesaji, mantera yang dibutuhkan.
    Yang mungkin menjadi rahasia selamanya adalah proses khusus dalam memguji nominasi thaledhek dalam hal pengetahuan seksual ataupun demonstrasi menari tayub. Bisa saja dilakukan dalam ruang khusus terisolasi dengan penilai Permaisuri (prameswari) Raja atau Selir kinasih yang ditunjuk.

    Proses ini sama rahasianya dan sama misteriusnya dengan praktek ritual tayub dalam Asthabrata. Karena hanya boleh dilihat Raja saja. Penabuh Gamelan sama sekali tidak bisa melihat (ada batas ruang yang orang lain tidak mungkin melihat proses ritual tayub selain raja seorang diri).
    Demikian pula bagi Thaledhek. Selesai proses nominasi dan selesai menjalani ritual Asthabrata akan menjadi rahasia pribadi bagi dirinya sendiri. Menjadi pengalaman sekali seumur hidup bagi sang gadis pilihan ini. Dia akan kembali ke kehidupan bangsawan dan mungkin saja hanya menari tayub sekali seumur hidupnya.

    Thaledhek Asthabrata benar benar posisi terhormat. Kita tidak akan pernah tahu persis apa kompensasi Thaledhek setelah sukses menjalankan Asthabrata. Apakah tali asih harta kekayaan, kedudukan bagi orang tuanya, diangkat menjadi pendamping sang Pangeran, atau bahkan diangkat menjadi selir raja? itu merupakan sisa misteri ritual tayub dibalik kehidupan tembok kraton.

Sebaliknya dalam diri Putera Mahkota. Apakah dia begitu terpana dan terlampau menikmati ritual dari sisi ketertarikan erotis Thaledhek atau sebaliknya bergerak kikuk dan menjadi beban (karena dilihat ayahnya / rajanya) ? Apakah cenderung menghindar atau merespon dengan baik, apakah putera mahkota mampu dengan cara ksatria (dalam kesatuan tubuh, kesatuan sampur / selendang, kesatuan tarian tanpa menyentuh tubuh) mengendapkan segala ketertarikannya. Penilaian akhir dari Raja sepertinya tidak mungkin ditulis dengan gamblang.

Baca Juga:   5 Fakta Menarik Kota Boyolali

Dari rekonstruksi suasana sebelum dan sesudah ritual tayub ini, kita juga bisa menggambarkan bagaimana profil seorang Thaledhek terpilih menjelang saat ritual, saat hanya bertiga dalam ruangan khusus. Raja, putera mahkota dan gadis Thaledhek

inilah gambaran profilnya :

Gadis bangsawan 18 tahun masuk ke ruangan tertutup, setelah melakukan sejumlah sembah dan laku ndodok (jongkok) . Hanya disaksikan Raja & putera mahkota. Gerakannya ketika diperintahkan berdiri oleh raja dan diminta membisikkan gendhing dan syair yang bagaimana yang akan menguji Putera kesayangan raja, benar benar saat yang istimewa. Ada semburat merah di wajah gadis Thaledhek. Ada perasaan terhormat namun malu ketika harus berbisik. Putera mahkota tetap dalam posisi menunduk. kombinasi antara bangga dan malu (rona muka) hanya bisa disaksikan dengan jelas oleh raja. Penggalan syair syair dari macam macam gendhing yang ditawarkan gadis thaledhek ini kemudian dipilih satu diantaranya oleh Raja. Semuanya dilakukan dengan cara berbisik.

Akhirnya bisa digambarkan moment klimaks, esensi sakralitas tayuban dalam fungsinya sebagai bagian pelajaran Asthabrata. Berikut dipilih syair penggalan PANGKUR, PUPUH 487, BAIT ke 2 dalam Buku jilid ke 6 dari 12 Buku Serat Cenhini setebal 4500 halaman.
Dalam kesatuan tubuh , satu selendang , sepasang penari (thaledek dan Pangeran), masing bergoyang sangat erat tanpa menyentuh tubuh, sambil berbalas syair dalam tembangan :
/SANGET KEPENGIN KAWULO /
/lIR PUNAPA NGGIH RAOSE PUNIKI /
/MBOK UNGGIHA SANG ABAGUS/
/SA…BLESEKAN KEWALA/
( Ditembangkan Thaledek sambil menari bergoyang )

/ JAYENG GRAGA ALON DENIRA AMUWUS/
/LAH … IYO ING MENGKO KEWALA/
/AMBUNGANA BAE DHISIK /
(Balasan tembang Pangeran Mahkota )

Arti terjemahannya ,
/ Aku sudah amat sangat menginginkan /
/ Seperti apa rasanya kira kira yaaa …/
/ Mohon Kakanda sudi mewujudkan /
/ Meskipun satu kali masuk atau satu kali tusukan saja / ( Thaledek )

/ Jayeng Graga berkata liriihhh /
/ lah iyaaa nanti sabarlah dulu /
/ Adinda ciumi saja dahulu ya /
( Pangeran Putera Mahkota )

Inilah gambaran puncak penghayatan sakralitas Tayub yang benar benar diuji bagaimana kesungguhan / fokus berbalas syair, bagaimana menikmati anugerah Yang Esa dalam menciptakan manusia berpasang pasangan, bagaimana kasih sayang dicurahkan dengan hasrat dan ketulusan yang nyata.

Pangeran meskipun kagum dan sangat tertarik namun berhasil mengendapkan segala hasratnya. Gadis Thaledek membawa kenangan terindah seumur hidupnya dalam kesempatan penyatuan dengan Pangeran muda Putera Mahkota raja. Kita benar benar keliru ketika membayangkan ujian tayuban laksana tarian profan, bersenang senang yang kadang kental dengan erotisme semata ataupun minuman beralkohol.

Sebagai Penutup, mungkin ada tersisa satu pertanyaan. Mengapa Uji Tayub berakhir pada Tahun 1788 an? Nantikan penjelasannya dalam edisi : HANCURNYA TAYUB DARI KEHIDUPAN DALAM KRATON JAWA.

Di akhir Edisi Fakta ke 3 ini bisa kita renungkan Komentar Bpk RM Sudibyo dan Ibu Ratna Sakti Mulya, Pembicara kunci Diskusi Nasional tentang Buku Ajaran Kepemimpinan Astha Brata di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta. Mulai dari Pakualam I sampai Pakualam ke X. Buku itu sendiri ditulis oleh Pakualam ke X. Diskusi berlangsung di Jakarta pada April 2018. Apa yang dikatakan?? Dalam prakteknya seorang Raja bisa mewujudkan SEPARUH SAJA dari ajaran Asthabrata itu sudah bagus. 50% saja dari prinsip Ngadeg, Sabar, Bener dan Kuwat, itu sudah bagus.

Penulis: P. Prasto H (Kontributor Budaya Wartasurakarta.com & Koordinator Pepeling Art)