Hakekat Awal Tayub Adalah Adat Keraton Jawa (Fakta Ke-2)

0
143

WARTASURAKARTA.COM – Hakekat Awal Tayub Adalah Adat Keraton Jawa adalah Fakta ke 2 dari misteri 1000 tahun perjalanan Tayub. Posisi istimewa Tayub yang hidup dilingkungan dalam tembok kraton kraton jawa pada dasarnya membuktikan hakekat awal Tayub sebagai Tarian Istana , sebagai bagian dari Adat Istana Jawa .

Tradisi Tayub hampir setua sejarah perjalanan panjang yang mengiringi dan menjadi saksi timbul tenggelamnya kekuasaan raja raja di Kerajaan Jawa . Inilah deretan hampir 1000 tahun lorong waktu usia Tayuban .

  1. Era Kerajaan Jenggala
  2. Era Kerajaan Tumapel
  3. Era Kerajaan Sinhasari (Singasari)
  4. Era Kerajaan Majapahit
  5. Era Kerajaan Pajang
  6. Era Kerajaan Mataram Islam
  7. Era Pewaris Kembar Trah rah Mataram setelah pecah yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat & Pakualaman dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat – Praja Mangkunegaran .

Uniknya hanya pada masa Kerajaan Demak Bintara saja tradisi Istana Tayuban benar benar berhenti / vakum samasekali . Apakah ini berkaitan dengan pusat syiar Agama Islam sampai saat ini kami belum menemukan catatan tertulis .

Setidaknya ada beberapa catatan menarik yang memperkuat bukti hakekat awal tayub sebagai bagian adat Kraton :

A. Pada era kerajaan Pengjalu ( Penjalu ) , Jenghala ( Jenggala ) , Kediri tayub acapkali digelar berkaitan dengan peristiwa penting . Koreografer Tayub , S. Poedjosiswoyo BA menceritakan Tayub justru menjadi Tarian baku menyambut tamu pada masa kerajaan Kediri .

Apa yang terjadi pada masa Prabu Suryowisesa ( Samarotsaha – Prasasti Sumengka , Th. 1059 Masehi ) lebih mrnarik. Tidak saja ritual Tayub mrnjadi bagian dari protokoler penobatan raja tetapi krmudian justru menjadi kebiasaan yang lebih personal . Para Selir raja diwajibkan menari ngigel ( bergoyang beriama ) menjemput raja sebelum memasuki bilik keputren. Boleh jadi tiap selir akan memamerkan tarian ( goyangan) terbaiknya sebelum aktivitas ‘ Buka Klambu’ . Harapannya akan lebih ditengok sang Raja , akan sering di Kersaakê. Era Jenggala memang sudah ada koin logam sebagai alat tukar ( jenis tembaga , perak dan emas ) , bentuknya cenderung bulat dan cembung . Bilamana Raja puas dengan Layanan ( intertaint termasuk ngigel sebagai ‘ fore play ‘ ala Kamasutra Jawa ) mungkin saja tidak hanya mendapat perhatian lebih sang Raja tetapi juga hadiah Marterial ( Uang Mas atau taliasih lainnya ) .

Baca Juga:   Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo

B. Dalam catatan Mangkunegaran ataupun koleksi Serat Serat jawa kuna akan ditemukan Posisi Baku Tayub sebagai TRADISI JUMENENGAN KRATON pada masa Raja terbesar era Mataram Islam, Sultan Agung Tirtayasa . Jumenengan adalah ulang tahun tahta raja .

C. Dalam Buku Serat Gendhing Dan Tembang ( diterbitkan oleh Yayasan PB X ) juga disebut Tayuban dulunya adalah TARIAN ADAT ISTANA .

Penulis: P. Prasto H (Kontributor Budaya Wartasurakarta.com & Koordinator Pepeling Art)