Ken Dedes Dan Vagina Yang Bersinar

0
458

WARTASURAKARTA.COM – Syahdan… pengawal akuwu Tunggul Ametung yang bernama Ken Arok, bertugas mengawal nyonya akuwu yang bernama Ken Dedes. Di tengah perjalanan, Ken Dedes memerintahkan berhenti, dan membiarkannya turun dari kereta tandu. Dari sini sejarah raja-raja Jawa yang masyhur dimulai….

Ken Dedes adalah perempuan paling cantik pada zamannya. Bahkan dari penggambaran para sastrawan, bisa jadi Ken Dedes adalah wanita paling cantik yang pernah diciptakan Tuhan. Saking cantiknya, ia menjadi rebutan banyak pangeran bahkan para raja. Dalam narasi lain bahkan diungkapkan secara hiperbolis, Ken Dedes-lah satu-satunya wanita yang mengakibatkan banyak darah tertumpah.

Adalah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, daerah di bawah kerajaan Kadiri ( ketika itu diperintah raja Kertajaya 1185-1222) yang kemudian merenggut Ken Dedes tidak dengan cinta. Selaku akuwu, atau kepala daerah Tumapel, tak pelak Tunggul Ametung mendengar ihwal kecantikan Ken Dedes, putri Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha Mahayana.

Demi mengetahui begitu banyak pria darah biru dan pria kebanyakan tergila-gila kepada Ken Dedes, Tunggul Ametung segera menyambangi kediaman Mpu Purwa, bermaksud hendak menyunting Ken Dedes. Apa hendak dikata, setiba di padepokan, Mpu Parwa tidak berada di rumah. Ketika itulah, Tunggul Ametung melihat seorang gadis yang kecantikannya begitu sempurna.

Dialah Ken Dedes. Tunggul Ametung pun langsung meminang Ken Dedes menjadi istrinya. Tentu saja Ken Dedes tidak serta merta menjawab “iya”, tetapi juga tidak berani berkata “tidak” kepada akuwu Tumapel. Ia hanya meminta sang akuwu menunggu kepulangan kanjeng rama, Mpu Purwa. Tunggul Ametung dengan kekuasaannya, memaksa Ken Dedes ikut serta ke Tumapel, tanpa menggubris permintaan Ken Dedes.

Betapa kaget dan murka Mpu Purwa demi pulang dan mendapati putrinya dibawa paksa Tunggul Ametung, hingga keluar kutukan, “Hai orang yang melarikan anakku, semoga tidak mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris. Demikian juga orang-orang Panawijen, keringlah sumurnya, semoga tidak keluar air dari kolamnya.”

Baca Juga:   Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo

…sangat panjang jika seluruh isi Kitab Pararaton dituang di sini. Tulisan ini tidak hendak membahas tentang “Kitab Raja-raja” (Pararaton), melainkan hanya menukil satu kisah tentang seorang wanita sempurna bernama Ken Dedes, yang kelak menjadi ibu yang melahirkan raja-raja besar di Pulau Jawa.

Tersebutlah Tunggul Ametung sedang berjalan-jalan di kawasan yang disebut Hutan Baboji. Sebagai pengawal yang setia, Ken Arok pun menyertainya. Konon ketika itu Ken Dedes meminta berhenti dan turun dari kereta tandu.

Ketika turun dari kereta, langkah kaki Ken Dedes telah menyibak kain pembalut tubuhnya. Ken Arok yang tepat berada di depannya serta merta sepasang betis yang indah dan aurat Ken Dedes yang bersinar. Dalam Pararaton tertulis: “kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Arok,” yang berarti “tersingkap betisnya, yang terbuka sampai “rahasia”-nya, lalu terlihat oleh Ken Arok”.

Ken Arok terkesiap. Sejak itu, bayangan tentang vagina yang bersinar tak beranjak dari benaknya. Bukan birahi yang membuatnya tak henti membayangkan, tetapi sesuatu yang bersifat misterius. Karenanya, ia segera menyampaikan apa yang dilihatnya kepada pandita Lohgawe, guru spiritual sekaligus orang yang dianggap seperti orang tuanya sendiri.

Lohgawe menjelaskan “Jika seorang laki-laki memperistri wanita dengan ciri-ciri seperti itu, maka dia akan menjadi maharaja.” Mendengar hal itu Ken Arok termenung, hatinya berkecamuk. Ken Arok pun memantapkan hati untuk bisa menikahi Ken Dedes. Ia pun mengatur siasat.

Baca Juga:   Stadion Sriwedari

Pertama, Ken Arok memesan keris kepada Mpu Gandring. Disanggupi dalam waktu 12 bulan, tetapi baru tujuh bulan, Ken Arok sudah tak sabar. Ia meminta paksa keris itu. Bahkan kemudian mpu Gandring ditikam dengan keris buatannya sendiri. Menjelang ajal, mpu Gandring pun mengutuk bahwa keris itu akan mengakibatkan kematian tujuh orang raja, termasuk Ken Arok, yang ketika itu bahkan masih berstatus pengawal.

Sesampai di Tumapel, Ken Arok memberikan keris itu kepada rekan pengawal lain bernama Kebo Ijo yang terkenal ceroboh, congkak, dan gemar mabuk-mabukkan. Dalam saktu singkat, seluruh Tumapel sudah tahu ihwal keris baru Kebo Ijo.

Ken Arok lalu mencuri keris itu dari Kebo Ijo, saat Kebo Ijo mabuk. Dengan keris itu pula, ia menyelinap ke kamar Tunggul Ametung, dan menikamkan keris ke tubuh Tunggul Ametung hingga tewas. Dikisahkan, Ken Dedes mengetahui peristiwa itu, tetapi tidak menampakkan reaksi keberatan. Dalam banyak versi disebutkan, Ken Dedes memang sudah menaruh hati terhadap Ken Arok. Alasan lain, Ken Dedes dinikah Tunggul Ametung secara paksa.

Kematian Tunggul Ametung membuat Tumapel geger. Kegegeran yang seperti sudah diskenariokan Ken Arok, berujung pada tuduhan pembunuhan oleh Kebo Ijo sang pemilik keris yang menancap di tubuh Tunggul Ametung. Tuduhan telak, yang mengakibatkan Kebo Ijo dihukum mati.

Ken Arokpun mengangkat dirinya menjadi akuwu Tumapel, sekaligus memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung janin yang kelak terlahir dengan nama Anusapati. Konon pada akhirnya Anusapati mengetahui bahwa Ken Arok sesungguhnya bukan ayah kandungnya, melainkan Tunggul Ametung. Mengetahui ayah kandungnya mati dibunuh oleh Ken Arok, maka Anusapati menuntut balas dengan membunuh Ken Arok. Begitulah kejadian saling membunuh terjadi seperti kutukan Mpu Gandring.

Baca Juga:   Mengapa Putera Mahkota Raja Jawa Wajib Ujian Tayub Sebelum Naik Tahta? (Fakta Ke-3)

Tapi lepas dari itu, dari Rahim Ken Dedes lahir raja-raja. Sebab, setelah Ken Arok memberontak terhadap Kerajaan Kadiri, dan memenangkan peperangan, maka Tumapel berdiri sebagai kerajaan bernama Singasari. Dari Singasari nanti menurunkan Majapahit dengan raja-raja besarnya.

“Ken Dedes sebagai Stri Nareswari dapat disamakan dengan Mahamaya, ibunda pangeran Siddharta dari Kapilawastu. Dari rahimnyalah lahir tokoh besar yang dikenal oleh manusia seluruh dunia, Siddharta Gautama. Dimetaforakan sebagai Mayadewi. Ia adalah ikon dari seorang dewi sempurna yang melahirkan tokoh agung pembawa ajaran Buddha,” tulis Agus Aris Munandar dalam “Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Dedes dalam Kitab Pararaton”, Jurnal Manassa Berkala Ilmiah Pernaskahan Nusantara Volume 1, Nomor 1, 2011.

Menutup bahasan tentang Ken Dedes, seorang pelaku spiritual Kiageng Agung Jati menyatakan dalam penerawangannya, “Setelah mencoba menembus waktu dan mohon izin untuk bertemu dalam mata batin, saya merasa jatuh cinta. Namun tentu hal yang tidak mungkin,” ujarnya.

Ken Dedes adalah figur wanita Jawa kuno, kuat dalam adat, taat pada keimanannya serta lemah lembut budi pekerti dan perilakunya. Ia sangat patuh dalam keluarga, sangat tahu diri serta mendudukkan dirinya sebagai sosok wanita Jawa paripurna. Pesona gestur yang memukau dengan mata teduh namun berwibawa. “Tak ada dan tak bisa digambarkan atau disamakan dengan artis secantik apa pun, sebab dalam diri Ken Dedes telah diberikan cahaya sebagai sosok ibu yang melahirkan para raja,” katanya.