Tayub, Sebagai Ritual dan Hiburan

0
43

WARTASURAKARTA.COM – Tayub adalah salah satu kesenian buhun (lama) yang masih ada sampai sekarang. Kesenian ini termasuk buhun karena sudah dilakukan secara turun temurun dan masih dilakukan di beberapa tempat di Indonesia salah satunya di Jawa Barat.

Kesenian Tayub di berbagai daerah memiliki versinya masing-masing. Di antaranya di Jawa Barat dan Tengah disebut Tayub, di Jawa Timur disebut Gandrung, di Banyumas disebut Lengger dan sebagainya.

Dalam pertunjukan Tayub di Jawa Barat, Kabupaten Subang khususnya penari Tayub disebut dengan julukan ronggeng. Penari ronggeng dalam kesenian Tayub dianggap sebagai simbol kesuburan dimana penari ronggeng menari bersama pengibing (laki-laki) di pakalangan (arena menari, biasanya di tanah bukan diatas panggung).

Di Jawa Barat kesenian Tayub yang ditarikan oleh penari ronggeng diperuntukkan bagi Dewi Sri atau yang biasa disebut Nyi Pohaci. Acara Tayub itu sendiri biasanya dipertunjukkan pada masa panen padi. Di mana masa panen menjadi saat yang tepat bagi warga dalam mensyukuri panen padi dan diharapkan panen tersebut menjadi berkah dalam kehidupan masyarakat kedepannya.

Di Kabupaten Subang upacara yang berkaitan dengan padi ada dua yaitu masa sebelum tanam padi dan masa setelah panen padi. Masa sebelum tanam padi biasanya dilakukan saat awal musim hujan, acara ini dinamakan hajat bumi. Acara hajat bumi sendiri dilakukan pada siang hari dengan menanggap Wayang Golek. Sementara pada malam harinya warga menanggap acara hiburan seperti Jaipong, Dangdut, atau Tayub.

Baca Juga:   Gareng

Dalam konteks ini, Tayub dipandang sebagai salah satu pertunjukan hiburan warga desa. Acara yang kedua yaitu masa panen, pada masa ini pertunjukan Tayub dianggap penting untuk dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur warga desa terhadap panen padi yang melimpah. Beberapa desa di Subang masih mempertahankan tradisi tersebut seperti di Kecamatan Pabuaran yaitu di Desa Karanghegar dan Desa Pringkasap, serta di Kecamatan Cipeundeuy seperti di Desa Kosar, Desa Sawangan dan beberapa desa lainnya.

Selain itu biasanya diadakan saat ada hajatan warga (pribadi). Hajatan warga itu sendiri biasanya dilakukan pada saat warga merayakan pesta daur hidup (perkawinan, sunatan, syukuran) dan biasanya dilakukan pada saat musim panen tiba. Hal ini menjadi kebiasaan unik tersendiri bagi warga Subang, di mana setiap warganya ingin memperoleh kesempatan membuat pesta hajatan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, pertunjukan Tayub biasanya dilaksanakan dalam bentuk hajatan pribadi warga. Seperti yang ditulis Endang Caturwati dalam bukunya Sinden-Penari Di Atas & Di Luar Panggung, kegiatan hajatan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adat kepercayaan yang menjadi tradisi pada masyarakat Sunda, serta senantiasa mempunyai keinginan untuk melaksanakannya. Dalam konteks sosial kegiatan ini seolah-olah merupakan hal yang wajib dilaksanakan, yang terkadang pada masa kini lebih banyak merupakan unsur ‘riya’ atau pamer dari pada fungsi ritualnya itu sendiri. Pertunjukan Tayub yang diselenggarakan di acara hajatan warga baik khitanan maupun pernikahan dianggap memiliki berkah tersendiri.

Baca Juga:   Menguak Misteri 1000 Tahun Perjalanan Tayub (Fakta Ke-1)