Tahok, makanan legendaris khas tionghoa dari Solo

0
13

WARTASURAKARTA.COM – Tahok merupakan makanan tradisional Cina yang dibawa oleh pendatang dari Tionghoa yang kemudian menetap di Pasar Gede, Solo. Jika sekilas, terlihat tahok ini bentuknya menyerupai pudding ataupun bubur sumsum. Tetapi tahok itu sendiri merupakan makanan yang berasal dari sari kedelai yang dibuat lebih kental dengan diberi kuah jahe. Tahok ini memiliki banyak khasiat, salah satunya adalah dapat mengobati masuk angin. Tak hanya itu, tahok juga bagus untuk membantu melancarkan proses persalinan bagi ibu hamil.

Salah satu penjual tahok legendaris yang ada di Solo adalah Wagiman. Pria asal Madiun yang sudah berjualan tahok di kretek gantung Pasar Gede, Solo selama kurang lebih 30 tahun sejak tahun 1970. “Dulunya itu saya berjualan keliling sekarang menetap di Kretek Gantung Jl. Kapten Mulyadi, Pasar Gede. Tahok itu seperti kembang tahu, kalau orang Surabaya menyebutnya Tawa, kalau orang Semarang menyebutnya kembang tahu, orang Jakarta menyebutnya juga kembang tahu. Jadi tahok itu dari sari kedelai yang dibikin kental kemudian diberi kuah jahe,” tutur Wagiman. Untuk membuat kental kedelainya sendiri itu ada resep khusus. Resepnya yang dimaksud merupakan warisan turun temurun. “Jadi pertama-tama kedelai itu di bersihkan, lalu digiling. Setelah digiling dikasih air lalu disaring diambil susu kedelainya. Habis itu baru direbus sampai matang barulah dijadikan kental,” jelas Wagiman.

Baca Juga:   Stadion Sriwedari

Wagiman setiap hari biasanya mulai memproses membuat tahok ini dari jam 01.30 WIB hingga jam 05.00 WIB baru selesai membuat. Kemudian sekitar jam o6.00 WIB ia sudah berangkat berjualan di kretek gantung Pasar gede. Sehingga proses pembuatan dan perebusan tahoknya ini sendiri memang membutuhkan waktu yang lama. Harga semangkuk tahok ini dibanderol dengan harga Rp 7 ribu per mangkok. Tahok Wagiman buka setiap hari dari jam 06.00 WIBsampai habis. “Kalau ramai biasanya ya sampai jam 11.00 WIB, kalau lagi sepi sampai jam 15.00 WIB. Setiap harinya saya biasanya dapat menjual 150 porsi tahok,” tutur Wagiman.

Salah satu pencicip tahok yang baru pertama kali datang mencicipi tahok, Bambang(43) berpendapat bahwa “Saya baru pertama kali mencoba ini, melihat ada tahok lalu saya langsung membeli. Sebetulnya setiap hari saya sering melewati, tetapi belum tersampaikan untuk mencoba menikmati tahok ini. Ya baru pertama kali ini mencoba, rasanya seperti kedelai lalu dicampur seperti kayak wedang ronde kayak semacam jahe. Ya rasanya enak, pas dimakan itu rasanya halus trus dibadan rasanya hangat. Baru pertama kali ini mencoba kayaknya juga ketagihan ini.”