Menguak Misteri 1000 Tahun Perjalanan Tayub (Fakta Ke-1)

0
88

WARTASURAKARTA.COM – Membaca artikel berjudul “Tayub Sebagai Ritual dan Hiburan”, saya tergelitik untuk menuliskan sejarah perjalan tayub yang ternyata sudah ada lebih dari seribu tahun yang lalu.

Tari Tayub, atau acara Tayuban, merupakan salah satu kesenian Jawa Tengah yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahankhitan serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek.

Tari tayub merupakan tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. beberapa tokoh agama islam menganggap tari tayub melanggar etika agama, dikarenakan tarian ini sering dibarengi dengan minum minuman keras. pada saat menarikan tari tayub sang penari wanita yang disebut ledek mengajak penari pria dengan cara mengalungkan selendang yang disebut dengan sampur kepada pria yang diajak menari tersebut. serinng terjadi persaingaan antara penari pria yang satu dengan penari pria lainnya, persaingan ini ditunjukkan dengan cara memberi uang kepada Tledek (istilah penari tayub wanita).persaingan ini sering menimbulkan perselisihan antara penari pria.

Baca Juga:   Pangkur

(sumber: wikipedia)

Fakta 1: Ken Dedes Sang Penayub Spesial

Pada masa kekuasaan raja Kertajaya (Kerajaan Pengjalu , berpusat di Daha , sekarang dikenal sebagai kota Kediri- Jawa Timur), Tunggul Ametunglah tokoh paling terkemuka dikawasan Tumapel , setingkat Kadipaten didalam wilayah Pengjalu. Memang pada saat Era Kertajaya , para brahmana dan ahli budda benar benar dikurangi fasilitasnya . Banyak kaum brahmana dan petinggi budda kemudian pindah ke Tumapel , termasuk Mpu Purwa ( ayah Ken Dedes ) . Di desa Panawijen ( desa ini sekarang dikenal sebagai Desa Polowijen , kota Malang ) inilah Ken Dedes tumbuh dan berkembang . Dari Kinerja Tunggul Ametung yang ciamik inilah akhirnya diangkat menjadi AKUWU. Kewenangan Akuwu setingkat dengan Bupati . Sebagai perbandingan dengan luas daerah saat ini maka luas area Tumapel kira kira diantara rentang luas Kecamatan besar dan luas wilayah administratif Kabupaten.

Proses penobatan AKUWU Tunggul Ametung nenandai berdirinya Tumapel sebagai Underbow Pengjalu ( Underbow : kerajaan lebih kecil yang ada dalam kerajaan lebih besar) . Yang mungkin belum banyak ditulis adalah adanya Gelar Tayub setelah Protokoler penobatan Akuwu selesai. Ken Dedes dan Tunggul Ametung terlibat didalam Prosesi tayub ini. Kita jangan mrmbayangkan gelaran tayub seperti era sekarang . Tayub pada era itu lebih sebagai bagian dari ritual adat Istana . Tayub masih sebagai produk adilihung yang mrnggambarkan filosilofi ( pandangan hidup ) dan tarian sendiri menggambarkan pasangan hidup . Istilah HAMBEK TALEDHEK dipahami sebagai Seorang Penguasa yang tetap teguh pada yang Esa ( Hambek = kambek yang Esa ) . Pemimpin dituntut kebal terhadap segala godaan ( nafsu harta , keindahan wanita ) . Taledhek dimanai sebagai simbol yang menggoda ( Taledhek , Tledek, Ledek , Meledeki , menggoda ) .

Baca Juga:   Gareng

Kita bisa merekonstruksi faktor spesial Ken Dedes dalam ritual Tayub . Sebagai gadis yang lahir dari kalangan atas ahli budda, Ken Dedes disebut sebagai Buddis sudah sampai pada tingkat KARMA AMAMADANG. Artinya sudah selesai dari proses SAMSARA ( perputaran hidup . Dalam pandangan Hindu dikenal sebagai reinkarnasi ) .Sebagai Penganut budda mahayana , Gadis Dedes ini sudah ada di puncak reinkarnasi , dia berada di kehidupan fana terakhir dengan keindahan fisik ( tubuh ) maupun non fisik ( laku religi , pemilik banyak talenta ) .

Keunggulan lain yang tidak dimiliki gadis manapun adalah bahwa Ken Dedes memiliki ciri STRI NAWESWARI . Stri Naweswari adalah ciri seribu satu , bahkan sejuta diantara wanita karena Stri Naweswari adalah Wanita Utama yang kasat mata yang memiliki AURAT BERSINAR . Inilah mengapa seorang bikhu Budda dari India bernama LOH GAWE memastikan bahwa Ken Dedes dengan dua ciri spesial nantinya akan melahirkan keturunan raja raja seluruh jawa . Seperti ditulis dakam text sejarah resmi bahwa Loh Gawe ini adalah Penasehat Spiritual Ken Arok ketika Ken Arok menjadi pengawal andalan Tunggul Ametung sebelum dan sesudah penobatan Akuwu. Nah kita dapat mmbayangkan Ken Dedes dengan modal Karma Amamadang dan Stri Naweswari tentunya menjadi Pusat Keindahan , menjadi ukuran kecantikan Wanita Jawa Kuna. Keelokan Paras, Tarian tayub dan Talenta Gadis Dedes telah nenjadi Pusat Perhatian dalam Prosesi Akuwu Seorang Tunggul Ametung. Sayangnya Ken Arok kemudian lebih tertarik secara fisik ( ketertarikan seksual ) dengan membabi buta kepada Ken Dedes yang berujung pada kudeta berdarah dengan dibunuhnya Tunggul Ametung.

Baca Juga:   Semar

Penulis: P. Prasto H (Kontributor Budaya Wartasurakarta.com & Koordinator Pepeling Art)

bersambung…