Makna 1 Syuro Bagi Masyarakat Jawa

0
82

WARTASURAKARTA.COM – Tahun Baru Hijriah atau Tahun Baru Islam memiliki makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Surakarta (Solo) dan Yogyakarta. Dalam tradisi jawa, peringatan tersebut dikenal dengan Malam 1 Suro.

Malam 1 Suro sering diidentikan sebagai malam yang mistis dan terkesan angker. Namun menurut Wahyana Giri dalam Sajen Dan Ritual Orang Jawa (2010), momen malam 1 suro justru dimaknai sebagai malam yang suci dan bulan penuh Rahmat. Malam 1 Suro justru harus menjadi momentum untuk perenungan diri atau refleksi terhadap hidup dan kehidupannya, salah satunya dengan melakukan lelaku atau tirakat.

Melalui tirakat atau lelaku, seseorang dapat melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan tahun lalu untuk mawas diri dan introspeksi di tahun baru, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan.

Dalam implementasinya, masyarakat memperingati malam 1 Suro dengan mengadakan upacara-upacara ritual atau selamatan yang dikenal dengan kegiatan Suran atau Suronan.

Kirab Kebo Bule

Keraton Kasunanan Surakarta mempunyai tradisi Kirab Kebo Bule setiap Malam Satu Suro. “Kirab” berarti suatu “iring-iringan” atau “arak-arakan”, sementara “kebo” dalam bahasa Jawa berarti “kerbau”. Keraton Kesunanan Surakarta sendiri diketahui memiliki beberapa ekor kerbau ‘berkulit bule’. Mengapa kerbau? Karena merupakan refleksi dari apa yang dilakukan oleh Paku Buwono II pada 1725, yang tengah mencari lokasi untuk keraton Surakarta yang baru. Ketika itu, ia melepaskan kebo-kebo bule, dan para abdi dalem keraton mengikuti kerbau tersebut hingga berhenti di lokasi Keraton Kasunanan Surakarta yang sekarang.

Baca Juga:   Tayuban Digusur dari Kehidupan Keraton Jawa (Fakta Ke-5)

Mubeng Benteng

Sementara di Yogyakarta, tradisi Malam Satu Suro masih dilestarikan, salah satunya tradisi mubeng benteng. Tradisi mubeng benteng (mengelilingi benteng) alias keraton di Yogyakarta merupakan simbol dari refleksi dan introspeksi diri. Ketika mengelilingi keraton, para peserta tidak boleh mengeluarkan suara. Selain itu, peserta juga tidak boleh makan dan minum. Kegiatan mubeng benteng ini terbuka untuk umum, jadi siapa saja bisa ikut.

Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka atau ngumbah keris (mencuci keris) dilakukan dalam rangka merawat dan melestarikan warisan serta kenang-kenangan para leluhur yang merupa berbagai wujud. Pusaka merupakan hasil karya dalam bidang seni dan keterampilan yang diyakini mempunyai kesaktian. Jamasan pusaka dilakukan dengan memandikan pusaka dengan cairan tertentu.

Larung Sesaji

Larung sesaji merupakan ritual sedekah alam yang dilakukan dengan cara melarung berbagai bahan ke laut, gunung, atau tempat-tempat tertentu yang dianggap memiliki “kesakralan”. Secara makna spiritual, tradisi ini dianggap sebagai salah “kesadaran kosmos”, yaitu penghargaan manusia terhadap alam. Atau yang berarti ungkapan terima kasih kita kepada alam yang telah memberi manusia penghidupan.

Tirakatan

Ritual terakhir pada malam satu suro yang terakhir adalah tirakatan. Ritual Tirakatan diisi dengan berbagai kegiatan menyendiri seperti wirid. Bagi seseorang yang masih memegang teguh tradisi Jawa, Ritual Malam Satu Suro yang satu ini wajib dilakukan.