Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo

0
68

WARTASURAKARTA.COM – Loji Gandrung adalah rumah dinas Walikota Surakarta. Terletak di Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan protokol yang membelah kota Surakarta. Dengan luas bangunan 3.500 meter persegi, berdiri di atas lahan seluas 6.295 meter persegi, Lodi Gandrung memiliki gaya arsitektur Indis. Kata Indis bermula dari Nederlandsch Indie atau sering disebut Indisch saja, yang artinya Hindia Belanda. Arsitektur Indis ini lahir dari munculnya budaya Indis, yaitu perpaduan budaya Eropa (Belanda) dengan budaya Lokal (Jawa). Jadi gaya arsitektur Indis ini merupakan wujud dari alkulturalisasi budaya Eropa dan Jawa.Bangunan rumah dinas walikota Surakarta ini awalnya merupakan rumah tinggal milik Johannes Agustinus Desentje (1797-1839), dan dibangun pada tahun 1830. Desentje yang akrab dipanggil Tinus ini adalah seorang pionir perkebunan belanda di wilayah Surakarta dan merupakan tuan tanah di daerah Ampel, Boyolali. (de legendarisch solose planter en landeer van ampel)
Tinus adalah anak laki-laki dari pasangan August Dan Casper Desentje (1765-1826) dan Johana Magdalena Kops (1776-1852). Ayah Tinus adalah pengawal Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pada tahun 1816 Casper Desentje menyewa tanah milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang membentang dari Salatiga, Ampel sampai Boyolali. Tanah ini akhirnya dibeli oleh Casper Desentje, dan akhirnya diwariskan kepada Tinus.

Tinus menikah dengan Johanna Dorothe Boode pada tanggal 23 Oktober 1814 dan bertempat tinggal di rumah yang sekarang dikenal dengan nama Loji Gandrung ini bersama anak-anaknya. 
Selang 21 tahun kemudian Tinus menikah lagi dengan Raden Ayu Tjondro Koesoema, seorang putri dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 
Pernikahan diadakan di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan Raden Ayu Tjondro Koesoema mendapat nama baptis Sara Helena (Bosna & Raben 2008:108).
Setelah menikah Tinus dan Raden Ayu Tjondro Koesoema menetap di Ampel Boyolali. Kediaman Tinus di Ampel menyerupai rumah bangsawan Kasunanan yaitu berupa dalem pendapa seperti kadipaten.

Baca Juga:   Nasib Tayuban Mulai Tercemar di Era Kolonial Belanda (Fakta Ke-4)

Sebagai pengusaha perkebunan, Tinus sering mengadakan pesta di rumahnya yang berada di Solo. Karena sering digunakan untuk pesta dansa maka oleh orang-orang jawa disekitar rumah Tinus ini menyebutnya acara pesta tersebut dengan Gandrungan.
Gandrungan berasal dari bahasa jawa yang mempunyai kata dasar Gandrung, yang berarti sangat rindu akan kasih, tergila-gila karena asmara, atau mendambakan seseorang. Jadi Kata Loji sendiri berarti rumah besar, bagus dan berdinding tembok.Loji berasal dari bahasa belanda Loge yang oleh lidah jawa diucapkan loji.